Senin, 23 Desember 2013



Ketika sebuah kebahagiaan merenggut kebahagiaan lain

Ketika segaris senyum palsu berusaha menutupi berjuta keping kekecewaan

Saat mulut mulai terbungkam dan hanya air mata yang dapat berkata

Saat segudang amarah kian tertimbun jauh di dasar jiwa

            “Ayah, di mana dirimu yang dulu ?

            Tak dengarkah kau jeritan hatiku ?

            Aku rindu, Ayah..”

Kini semua terasa semakin menjauh

Kala dua utas tali yang terikat jadikanmu kian berbeda

Lalu sakit yang begitu mendalam tiada henti menggerogoti jiwa

Hingga kurasa bak kura-kura yang kehilangan tempurungnya

            Tak sadarkah kau, AKU JAUH LEBIH KECEWA !!

            Hingga awan turut menghitam seakan bulan malam ini enggan tuk beri senyumnya

            Gelegar petir sontak meneriakkan amarahnya

            Ah ! iri aku pada burung gereja yang tengah bercengkerama di atas sarangnya

Mana sosok pahlawan yang selalu buatku bangga ?
Mana malaikatku yang selalu menebar bahagia meski hanya dengan senyumnya ?

Sampai kapan ku harus bersembunyi di balik senyum palsu yang penuh luka ?

 

~ Peri Kecil ~

0 komentar:

Posting Komentar