Ketika sebuah kebahagiaan merenggut
kebahagiaan lain
Ketika segaris senyum palsu berusaha
menutupi berjuta keping kekecewaan
Saat mulut mulai terbungkam dan
hanya air mata yang dapat berkata
Saat segudang amarah kian tertimbun
jauh di dasar jiwa
“Ayah,
di mana dirimu yang dulu ?
Tak
dengarkah kau jeritan hatiku ?
Aku
rindu, Ayah..”
Kini semua terasa semakin menjauh
Kala dua utas tali yang terikat
jadikanmu kian berbeda
Lalu sakit yang begitu mendalam
tiada henti menggerogoti jiwa
Hingga kurasa bak kura-kura yang kehilangan
tempurungnya
Tak
sadarkah kau, AKU JAUH LEBIH KECEWA !!
Hingga awan turut
menghitam seakan bulan malam ini enggan tuk beri senyumnya
Gelegar
petir sontak meneriakkan amarahnya
Ah
! iri aku pada burung gereja yang tengah bercengkerama di atas sarangnya
Mana sosok pahlawan yang selalu
buatku bangga ?
Mana malaikatku yang selalu menebar
bahagia meski hanya dengan senyumnya ?Sampai kapan ku harus bersembunyi di balik senyum palsu yang penuh luka ?
~ Peri Kecil ~
0 komentar:
Posting Komentar