Mungkinkah
Nilai lebih berhaga dari pada prosesnya.? Ahh mungkin nilai memang lebih
berhaga dari pada proses. Bagaimana tidak, setiap kali kita mengerjakan sesuatu
selalu didasakan nilai, entah apa yang kita kerjakan tapi nilai menjadi salah
satu prioritas utama. Hal itu sebenarnya tidak mengapa, selagi kita melakukan
itu dengan tindakkan-tindakkan yang jujur.
Sungguh sangat
memprihatinkan dan sebuah ironi ketika mahasiswa yang dengan teori-teori yang
idealisnya itu berubah menjadi sangat egois untuk mendapatkan nilai yang
tinggi. Mahasiswa yang biasa berbicara tentang keadilan, kejujuran, dan
kebaikan berubah ketika mereka sedang melakukan Ujian Akhir Semester (UAS)
ataupun (UTS). kita malah berbuat kecurangan. Bukankah kecurangan itu merupakan
tindakan yang tidak jujur lagi tidak baik, dan bukankah merupakan sesuatu yang
mencederai rasa keadilan.?.
tidak ada
gunanya lagi kita berteori ketika kita sendiri melanggar teori yang kita
ucapkan. Mungkin kah kita orang-orang yang disebut munafik itu.? Padahal kita
sendiri mengutuk orang-orang seperti itu. Kenapa saya bilang kita munafik.?
karena kita hanya pintar berretorika didepan teman-teman atau dosen kita saja
tapi dalam kenyataan itu berbeda. Bukankah benar jika kenyataan (dessain) tidak
selalu sama dengan harapan (das sollen).?. Atau mungkin juga akulah yang salah
membuat tulisan ini, lagipula inikan tentang nilai yang sangat penting dalam
kehidupan ini. contohnya mudah saja dapat kita lihat dari keseharian kita,
bukankah beasiswa yang kita ajukkanpun salah satunya bukankah harus memenuhi
target Indeks Prestasi (IP) atau Indeks Prestasi Kumulatif (IPK).?
Apalah kita
ini, penuh dengan kemunafikan yang ditutupi dengan kemunafikan lain, termasuk
mungkin juga saya yang hanya berpura-pura suci ini. lagi pula bukankah banyak
anggapan bahwa proses itu menyebalkan buat kita.?. jika tanpa proses bisa
mendapatkan nilai yang baik kenapa kita melalui proses itu, benarkan.? yah,
ternyata jawab dari semua ini mudah saja.
Lagi-lagi nilai
telah merubah semuanya, orang-orang yang idealis berubah menjadi egois,
teman-teman yang meneriakkan tentang pentingnya sebuah kejujuran berubah
menjadi orang-orang yang munafik. Kehidupan ini sungguh sangat aneh, kenapa
orang yang berusaha untuk sukses harus merasakan hasil yang sama dengan orang
yang menginginkan kesuksesan yang instan saja.? Atau lagi-lagi mungkinkah aku
yang tidak pernah memahami kehidupan ini.?.
Ketika kita
yang mendapatkan nilai yang memuaskan dengan melalui proses, akan sangat
terpukul dan menyakitkan karena melihat teman kita yang bersantai mendapatkan
nilai yang sama. Kita tidak pernah tahu sebenarnya apa yang telah dijanjikan
oleh proses itu ketika kita mendapatkan nilai yang sama. Apakah proses akan
membuat kita unggul dibandingkan orang yang tidak melaluinya.?. Biarlah mungkin
ini sudah menjadi jalan kita untuk terus berlari. Kita telah berusaha, dan akan
terus berusaha walaupun menyakitkan ketika orang yang dengan mudah mendapatkan
kesuksesan yang kita dambakan juga.
Tapi walaupun
demikian saya yakin disuatu hari nanti proses yang kita jalani akan membuahkan
sesuatu yang tidak bisa didapatkan oleh mereka yang tidak menjalani proses.
Yakin lah sambil terus berusaha pasti kau akan sampai juga pada apa yang kau
impikan. Bukan kah di HMI sering meneriakan Yakusa ( Yakin Usaha Sampai ), maka
teriakanlah lagi dengan keras kalimat itu.
Mungkin saya
atau kita adalah orang yang munafik karena berpura menyerukan kebenaran tapi
dalam kenyataannya kitapun bisa jadi melakukan tindakkan yang tidak dibenarkan.
Tapi tidak mengapa, selagi kita masih bisa idealis, tetaplah menjadi seorang
yang idealis semampu kita. Tapi aku yakin, kalian adalah orang-orang yang tidak
akan menjual kejujuran, rasa keadilan, dan kebenaran dalam diri kalian dengan
janji-janji nilai yang baik diatas kertas itu saja, Karna, tanpa kau berbuat
curangpun, aku yakin kau akan mendapatkan nilai yang baik. Jika kalian tidak
mendapatkan nilai yang baik diatas kertas kalian mendapatkan nilai-nilai yang
lain salah satunya yaitu nilai kejujuran yang sangat lebih tinggi ketimbang
nilai diatas kertas.
Akhirnya
diakhir tulisan ini ada kata-kata yang saya kutip dari Bismar Siregar yang
sedikit saya rubah, “kepada kalian disampaikan, apa yang tepat dan baik
dilakukan! Kewajiban teleh selesai. Sekedar menyampaikan!”
.
0 komentar:
Posting Komentar