oleh : faishal amin
Judul buku : BERISLAM SECARA
TOLERAN
Penulis : Irwan
Masduki
Penerbit : Mizan Media
Utama (MMU)
Cetakan :1-2011
“Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. Setiap orang
berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap,
sesuai dengan hati nurani” (UUD 1945 Pasal 28 E).
Itulah pengantar awal buku ini, dimana dimulai dengan perselisihan
didunia barat mengenai agama islam karena peristiwa penyerangan 11 september
2001 yang dilakukan oleh orang muslim. Dari sinilah terjadi istilah islamopobia karena ketakutan
non-muslim terhadap islam dan umat muslim. Dengan tidak henti-hentinya
islamophobik menciptakan stereotype bahwa umat muslim adalah ekstremis,
pembuat onar, anti-kristen, anti-yahudi dsb. Ditambah ungkapan alin sina,
seorang penulis kontroversial asal kanada keturunan
iran: ”setelah membaca al-quran, saya terkejut. Saya terkejut karena saya
melihat kekerasan, kebencian,ketidakakuratan, kesalahan secara saintifik, kesalahan matematik, absurditas logika, dan
kekacauan gramatika. Setelah merasa pusing dan depresif, saya akhirnya menerima
kesimpulan bahwa al-quran bukanlah kitab Allah, tetapi ayat-ayat setan, cerita bohong,
dan produk pikiran yang sakit.”(hlm. 2) maka semakin kuatlah stereotyping
islamopobia.
Sebagai respon islamopobia munculah islamophilia yang
bersifat 1800 berbeda dengan islamopobia, akan tetapi islamophilia
sendiri seringkali terjebak dalam subjektifitas dan krisis transparasi
ketika menampilkan citra positif islam.
Dalam buku yang ditulis oleh irwan masduki, alumni al-azhar seorang yang
dari kecil sudah berada di lingkungan orang yang beragama ini diungkapkan
al-qur’an adalah dalil terbesar yang mengafirmasi pluralism agama (gamal
al-bana)(hlm.70), dan juga pemikiran gamal al-bana yang mengkritik fuqaha
radikal yang mewajibkan memerangi non-muslim atas kekafiran mereka (hlm.72).
Al-Qaradawi juga berpendapat bahwa boleh
mengucapkan selamat natal, kuhususnya kepada non-muslim yang menjalani hubungan
baik dengan orang islam hukumnya. Allah berfirman “jika kalian dihormati,
maka balaslah dengan penghormatan yang lebih baik atau balasan yang setimpal.”
(QS. Al-Nisa (4): 86) (hlm. 129).
Abdurrahman Wahid (gus dur) mengatakan “bukankah dengan saling
pengertian mendasar antar agama, masing-masing agama akan memperkaya diri dalam
mencapai bekal perjuangan menegakkan moralitas, keadilan dan kasih saying”. Dan
syi’ir tanpo waton,
“akeh kanga
pal qur’an hadise
Seneng
ngafirke marang iyane
Kafire dewe
ndak digatekke
Yen esih
kotor ati akale.”
Pesantren mengajarkan kepada Gus Dur jargon toeransi Al-Syafi’i: pendapat
kami mungkin benar tapi mungkin salah, sedangkan pendapat kalian salah mungkin
benar (hlm. 135).
Buku ini adalah ekspresi kegelisahan mengapa keimanan yang tertutup
tidak membuat umat beragama hidup dalam perdamaian dan koeksistensian. Keimanan
bukannya diresapi sebagai tuntunan perilaku saling menghargai perbedaan, tetapi
malah menimbulkan antagonism dan ketegangan yang tak berkesudahan. Buku ini
lahir untuk membangun jembatan penghubung antara “kita” dan “mereka” dengan
memahami dan mengelola perbedaan-perbedaan yang sejatinya sudah mengada sedari lama. Buku ini merupakan ikhtiar tulus
yang didasari niat untuk membuka keimanan yang tertutup.
Buku ini disusun dalam empat belas tema besar dengan 65 judul. Masih
banyak lagi pendapat-pendapat yang sangat membangun dari para tokoh besar
islam. Buku ini sangat bagus dibaca oleh kalangan umum baik muslim maupun
non-muslim yang menginginkan kehidupan ini penuh dengan kedamaian, bukan penuh
pertikaian. (akhmad faisal amin)
Kirain resensiku
BalasHapus