Jumat, 10 Januari 2014


oleh : faishal amin
 
 
Judul buku        : BERISLAM SECARA TOLERAN

Penulis              : Irwan Masduki

Penerbit            : Mizan Media Utama  (MMU)

Cetakan            :1-2011

“Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nurani” (UUD 1945 Pasal 28 E).

Itulah pengantar awal buku ini, dimana dimulai dengan perselisihan didunia barat mengenai agama islam karena peristiwa penyerangan 11 september 2001 yang dilakukan oleh orang muslim. Dari sinilah terjadi istilah islamopobia karena ketakutan non-muslim terhadap islam dan umat muslim. Dengan tidak henti-hentinya islamophobik menciptakan stereotype bahwa umat muslim adalah ekstremis, pembuat onar, anti-kristen, anti-yahudi dsb. Ditambah ungkapan alin sina, seorang penulis kontroversial asal kanada keturunan iran: ”setelah membaca al-quran, saya terkejut. Saya terkejut karena saya melihat kekerasan, kebencian,ketidakakuratan, kesalahan secara saintifik, kesalahan matematik, absurditas logika, dan kekacauan gramatika. Setelah merasa pusing dan depresif, saya akhirnya menerima kesimpulan bahwa al-quran bukanlah kitab Allah, tetapi ayat-ayat setan, cerita bohong, dan produk pikiran yang sakit.”(hlm. 2) maka semakin kuatlah stereotyping islamopobia.

Sebagai respon islamopobia munculah islamophilia yang bersifat 1800 berbeda dengan islamopobia, akan tetapi islamophilia sendiri seringkali terjebak dalam subjektifitas dan krisis transparasi ketika menampilkan citra positif islam.

Dalam buku yang ditulis oleh irwan masduki, alumni al-azhar seorang yang dari kecil sudah berada di lingkungan orang yang beragama ini diungkapkan al-qur’an adalah dalil terbesar yang mengafirmasi pluralism agama (gamal al-bana)(hlm.70), dan juga pemikiran gamal al-bana yang mengkritik fuqaha radikal yang mewajibkan memerangi non-muslim atas kekafiran mereka (hlm.72).

Al-Qaradawi juga berpendapat bahwa boleh mengucapkan selamat natal, kuhususnya kepada non-muslim yang menjalani hubungan baik dengan orang islam hukumnya. Allah berfirman “jika kalian dihormati, maka balaslah dengan penghormatan yang lebih baik atau balasan yang setimpal.” (QS. Al-Nisa (4): 86) (hlm. 129).

Abdurrahman Wahid (gus dur) mengatakan “bukankah dengan saling pengertian mendasar antar agama, masing-masing agama akan memperkaya diri dalam mencapai bekal perjuangan menegakkan moralitas, keadilan dan kasih saying”. Dan syi’ir tanpo waton,

“akeh kanga pal qur’an hadise

Seneng ngafirke marang iyane

Kafire dewe ndak digatekke

Yen esih kotor ati akale.”

Pesantren mengajarkan kepada Gus Dur jargon toeransi Al-Syafi’i: pendapat kami mungkin benar tapi mungkin salah, sedangkan pendapat kalian salah mungkin benar (hlm. 135).

Buku ini adalah ekspresi kegelisahan mengapa keimanan yang tertutup tidak membuat umat beragama hidup dalam perdamaian dan koeksistensian. Keimanan bukannya diresapi sebagai tuntunan perilaku saling menghargai perbedaan, tetapi malah menimbulkan antagonism dan ketegangan yang tak berkesudahan. Buku ini lahir untuk membangun jembatan penghubung antara “kita” dan “mereka” dengan memahami dan mengelola perbedaan-perbedaan yang sejatinya sudah mengada  sedari lama. Buku ini merupakan ikhtiar tulus yang didasari niat untuk membuka keimanan yang tertutup.

Buku ini disusun dalam empat belas tema besar dengan 65 judul. Masih banyak lagi pendapat-pendapat yang sangat membangun dari para tokoh besar islam. Buku ini sangat bagus dibaca oleh kalangan umum baik muslim maupun non-muslim yang menginginkan kehidupan ini penuh dengan kedamaian, bukan penuh pertikaian. (akhmad faisal amin)

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

1 komentar: