Rabu, 22 Januari 2014


M. Abdul Wahab*
Di setiap tahun, orang-orang selalu membuat resolusi. Sebenarnya asal dari aktifitas ini belum diketahui asal muasalnya, namun beberapa media banyak mengulas tentang resolusi setiap awal dan akhir tahun. Diperkirakan, tema tentang resolusi dan instrospeksi selalu menjadikan rating tersendiri untuk media khususnya media cetak karena pembacanya serasa diingatkan untuk membuat hal yang sama. 
Kebanyakan media membuat kegencaran tentang resolusi dengan targetnya berupa segmen anak muda. Dengan penjelasan yang santai dan khas anak muda, mereka tertarik dengan ajakan dari media untuk membuat resolusi dalam setahun ke depan. Beberapa hal yang diingatkan oleh media adalah keinginan untuk diwujudkan di tahun depan berupa prestasi, pendapatan, tabungan, dan lain-lain hingga perihal cinta. Sementara itu, sedikit sekali media yang mengajak untuk berinstrospeksi.
Sayangnya, kondisi resolusi yang dicanangkan yang demikian itu memiliki tujuan yang tidak lebih besar daripada tujuan keberadaan anak muda itu sendiri. Di sekitar pertengahan 2012, LSI (Lembaga Survei Indonesia) menyatakan bahwa terdapat 79% anak muda yang tidak tertarik pada politik. Survei lain juga menyatakan bahwa dari Kemenkes tahun 2010, sebanyak 34,7% dari seluruh penduduk Indonesia melakukan aktifitas merokok walaupun hal tersebut kadang-kadang saja. Dari presentase tersebut, Profil Kesehatan Kemenkes tahun 2012 menunjukkan bahwa penduduk usia muda dari usia 15tahun-29 tahun berkisar 60 juta orang. Bukan tidak mungkin, kalangan muda mengisi bagian yang banyak dari 34,7% penduduk yang merokok tersebut.
Di awal Desember 2013 sendiri, Kemenkes menyelenggarakan kegiatan Pekan Kondom Nasional, dengan mengerahkan beberapa bus di kampus-kampus yang notabene menjadi tempat pendidikan anak muda. Dengan mengesamping nilai kegiatan tersebut positif atau tidak, Kemenkes mencanangkan program tersebut untuk menghadapi survei mereka di tahun 2009, dengan hasil sekitar 35,9 responden remaja memiliki teman yang sudah melakukan seks pra nikah, bahkan 6,9 persen responden mengaku sudah pernah melakukan seks pra nikah. Dari beberapa hal yang jelas ini, ada baiknya anak muda mulai memikirkan hal tersebut.
Maka, hal-hal yang bisa ditawarkan oleh penulis adalah anak muda sebaiknya berinstrospeksi dengan mengusahakan untuk membuat resolusi baru yang berkaitan problematika di atas. Pertama, membentuk kepedulian terhadap politik. Stigma negatif yang selama ini ada, ada baiknya diacuhkan oleh anak muda dengan terus aktif di organisasi apapun itu. Pepatah lama mengatakan bahwa “pemuda saat ini adalah pemimpin di masa depan”. Maka, mengantisipasi acuh pada politik tersebut, anak muda tidak selayaknya berdiam diri. Dengan demikian, resolusi anak muda yang pantas adalah tahun ini harus lebih aktif berorganisasi.
Selanjutnya, mengurangi kegiatan merokok. Video berjudul sex, lies, cigarettes, oleh Yayasan Jantung Indonesia menunjukkan remaja atau pemuda Indonesia gemar menikmati rokok padahal sudah diketahui bersama rokok memiliki kandungan zat yang merugikan tubuh di kemudian hari. Resolusi sederhana adalah konsumsi rokok tahun ini harus lebih sedikit dari tahun kemarin.
Yang terakhir, perilaku seks bebas juga harus dijadikan resolusi tersendiri. Semakin tahun, video perihal tersebut semakin marak dan untuk mengantisipasinya, pemuda harus mengusahakan untuk menyadari bahwa kegiatan itu merupakan kegiatan orang dewasa saja. Dewasa yang dimaksudkan oleh penulis adalah dewasa secara jasmani dan rohani, karena kebanyakan seks bebas dilakukan remaja dengan asal-asalan, tanpa pertimbangan yang wajar. Maka, resolusinya adalah tahun ini harus menyadarkan teman atau diri sendiri untuk mengurangi seks bebas.
Masih banyak hal lain yang harusnya menjadi titik fokus anak remaja selain resolusi pribadi semata. Kepedulian terhadap selain diri sendiri yang dimulai dari sekarang merupakan introspeksi untuk resolusi yang baik karena individu yang demikian adalah individu yang dibutuhkan oleh masa depan. Penulis menyarankan, anak muda saat ini jangan saja mengikuti arus gaya hidup yang itu-itu saja, dengan resolusi baru serta instrospeksi penuh, anak muda harus membuat arus perubahan baru.

*M. Abdul Wahab (Hammada Mawahab)

0 komentar:

Posting Komentar