Rabu, 08 Januari 2014


(Oleh   : Hikamul ibad)

Di setiap organisasi memiliki kultur yang berbeda-beda yang menjadikan organisasi itu berbeda dengan organisasi lain. Salah satu contohnya adalah HMI. HMI memiliki kultur kebersamaan yang erat antar anggotanya dan keilmuan yang berbasis keislaman.

Pada kepengurusan saat ini kami mengangkat sebuah tema “Membangun kultur HMI sebagai basis spiritualitas dan solidaritas kader upaya menuju masyarakat transformative”. Tujuannya adalah agar semua kader dan pengurus bisa menjalankan roda keorganisasian berlandaskan spiritualitas dan solidaritas. Kemudian bisa menjadi manusia revolusioner yang dapat berkontribusi terhadap perubahan yang lebih baik.

Kata spiritual berarti pembentukan hubungan diri kader kepada penciptanya agar tercipta keseimbangan antara dunia dan akhirat.  Ketika seseorang kader mempunyai spiritualitas yang tinggi, maka ia meletakkan keimanan (Tauhid) sebagai landasannya dan menjadikan penelusuran sumber-sumber ilmu pengetahuan berlandaskan kepada sumber-sumber wahyu yang diyakini kebenarannya.

Didalam kihittoh perjuangan pun di jelaskan, Islam mengajarkan system keyakinan yang disebut tauhid. Tauhid berbeda dengan system keyakinan yang lain, karena carapandangnya terhadap eksistensi (wujud). Tauhid merupakan konsepsi system keyakinan yang mengajarkan bahwa Allah SWT adalah zat yang Maha Esa, sebab dari segala sebab dalam rantai kausalitas. Ajaran tauhid membenarkan bahwa manusia dibekali fitrah yaitu suatu potensi alamiyah berupa akal sebagai bekal untuk memilih sikap yang paling tepat serta untuk mengenali dan memferifikasi kebenaran dan kesalahan (haq dan bathil) secara sadar. Manusia meyakini tuhan dengan metode yang berbeda-beda.

Sedangkan solidaritas adalah esensi dari masyarakat demokratis. Ketiadaannya akan membuat tatanan demokrasi menjadi tidak ideal. Solidartas anggota misalnya tidak akan berfungsi ketika muncul rasa saling tidak memiliki (mutual distrust) satu sama lain. Hal ini akan berdampak secara psikologis pada masing-masing anggota suatu sikap individualistis. Dewasa ini, banyak orang menganggap berkembangnya pandangan individualistis sebagai ancaman terbesar bagi solidaritas. Akan tetapi, hal ini lebih berkaitan erat dengan berkurangnya rasa kebersamaan. Oleh sebab itu rasa kebersamaan sangat penting untuk membangun sebuah solidaritas kelompok atau masyarakat.

Ketika spiritualitas dan solidaritas mulai terbangun, maka hal yang diingikan atau oleh suatu organisasi akan tercapai. terbentuknya kedernya sebagai intelektual transformatif, yaitu intelektual yang paham terhadap perkembangan zamannya, dan dapat melakaukan perubahan-perubahan yang revolusioner. Dalam bahasanya Nurhady Sirimorok, Transformatif adalah sebuah proses di mana seseorang mengalami perubahan kerangka acuan berpikir (frame of reference). Kerangka ini menentukan apa yang diketahui dan bagaimana orang mengetahui. Seorang yang mengalami perubahan jenis ini berarti memperoleh kemampuan untuk melakukan refleksi kritis terhadap asumsi-asumsi, kepercayaan, nilai-nilai, dan perspektif yang melekat pada diri sendiri maupun orang lain. Namun proses ini tidak hanya melibatkan operasi kognitif dan rasional, tetapi juga melibatkan pergerakan emosional. Fenomena ini tidak dapat diajarkan tetapi harus dialami, sehingga peran pendidik terbatas sebagai fasilitator dan pemantik bagi berlangsungnya proses ini. Akhirnya dalam proses ini, individu bertransformasi menjadi pembelajar yang bisa mengarahkan diri sendiri, kritis, dan mampu berpikir secara otonom

Kalu kita pahami secara seksama tujuan dari tema ini sangat sederhana akan tetapi tidak mudah untuk diimplementasikan. Karena kita di tunntut untuk menjadi orang yang pintar atau orang yang revolusioner dan taat beragama. Selain itu kita harus bisa hidup harmonis dalam suatu kelompok dan mempunyai rasa kebersaaan dalam kelompok, ini yang memnjadi tujuan dari tema tersebut. Dan mudah-mudahan tujuan tersebut bisa terwujudkan melalui sebuah tindakan dan prilaku kita sehari-hari.

 






[1] Tema kepengurusan tahun 2013

0 komentar:

Posting Komentar