(Oleh : Hikamul ibad)
Di setiap organisasi memiliki kultur
yang berbeda-beda yang menjadikan organisasi itu berbeda dengan organisasi lain. Salah satu contohnya adalah HMI. HMI memiliki kultur kebersamaan yang erat antar anggotanya dan keilmuan yang
berbasis keislaman.
Pada
kepengurusan saat ini kami mengangkat sebuah tema “Membangun kultur HMI sebagai
basis spiritualitas dan solidaritas kader upaya menuju masyarakat
transformative”. Tujuannya adalah agar semua kader
dan pengurus bisa menjalankan roda keorganisasian berlandaskan spiritualitas
dan solidaritas. Kemudian bisa menjadi manusia revolusioner yang dapat berkontribusi
terhadap perubahan yang lebih baik.
Kata spiritual berarti pembentukan hubungan diri kader kepada penciptanya agar tercipta keseimbangan antara dunia dan akhirat. Ketika
seseorang kader mempunyai spiritualitas yang
tinggi, maka ia meletakkan keimanan (Tauhid) sebagai landasannya dan menjadikan
penelusuran sumber-sumber ilmu pengetahuan berlandaskan
kepada sumber-sumber wahyu yang diyakini kebenarannya.
Didalam kihittoh perjuangan pun di
jelaskan, Islam mengajarkan system keyakinan yang disebut tauhid. Tauhid
berbeda dengan system keyakinan yang lain, karena carapandangnya terhadap
eksistensi (wujud). Tauhid merupakan konsepsi
system keyakinan yang mengajarkan bahwa Allah SWT adalah zat yang Maha Esa,
sebab dari segala sebab dalam rantai kausalitas. Ajaran tauhid membenarkan
bahwa manusia dibekali fitrah yaitu suatu potensi alamiyah berupa akal
sebagai bekal untuk memilih sikap yang paling tepat serta untuk mengenali dan memferifikasi
kebenaran dan kesalahan (haq dan bathil) secara sadar. Manusia meyakini
tuhan dengan metode yang berbeda-beda.
Sedangkan solidaritas adalah esensi
dari masyarakat demokratis. Ketiadaannya akan membuat tatanan demokrasi menjadi
tidak ideal. Solidartas anggota misalnya tidak akan berfungsi ketika muncul
rasa saling tidak memiliki (mutual distrust) satu sama lain. Hal ini
akan berdampak secara psikologis pada masing-masing anggota suatu sikap
individualistis. Dewasa ini, banyak orang menganggap berkembangnya pandangan
individualistis sebagai ancaman terbesar bagi solidaritas. Akan tetapi, hal ini
lebih berkaitan erat dengan berkurangnya rasa kebersamaan. Oleh sebab itu rasa
kebersamaan sangat penting untuk membangun sebuah solidaritas kelompok atau
masyarakat.
Ketika spiritualitas dan solidaritas
mulai terbangun, maka hal yang diingikan atau oleh suatu organisasi akan tercapai. terbentuknya kedernya sebagai intelektual transformatif, yaitu intelektual yang
paham terhadap perkembangan zamannya, dan dapat melakaukan perubahan-perubahan
yang revolusioner. Dalam bahasanya Nurhady Sirimorok, Transformatif adalah
sebuah proses di mana seseorang mengalami perubahan kerangka acuan berpikir
(frame of reference). Kerangka ini menentukan apa yang diketahui dan bagaimana
orang mengetahui. Seorang yang mengalami perubahan jenis ini berarti memperoleh
kemampuan untuk melakukan refleksi kritis terhadap asumsi-asumsi, kepercayaan,
nilai-nilai, dan perspektif yang melekat pada diri sendiri maupun orang lain.
Namun proses ini tidak hanya melibatkan operasi kognitif dan rasional, tetapi
juga melibatkan pergerakan emosional. Fenomena ini tidak dapat diajarkan tetapi
harus dialami, sehingga peran pendidik terbatas sebagai fasilitator dan
pemantik bagi berlangsungnya proses ini. Akhirnya dalam proses ini, individu
bertransformasi menjadi pembelajar yang bisa mengarahkan diri sendiri, kritis,
dan mampu berpikir secara otonom
Kalu kita pahami secara seksama tujuan
dari tema ini sangat sederhana akan tetapi tidak mudah
untuk diimplementasikan. Karena kita di
tunntut untuk menjadi orang yang pintar atau orang yang revolusioner
dan taat beragama. Selain itu kita harus bisa hidup harmonis dalam suatu kelompok dan mempunyai rasa kebersaaan dalam kelompok, ini yang memnjadi tujuan dari tema
tersebut. Dan mudah-mudahan tujuan tersebut bisa terwujudkan melalui sebuah
tindakan dan prilaku kita sehari-hari.
0 komentar:
Posting Komentar