Minggu, 16 Februari 2014




Oleh: M. Adil Muktafa*

Dalam kehidupan ini manusia tidak dapat hidup secara individualis. sehingga dalam bersosialisasi atau hidup berkelompok manusia memerlukan sosok panutan yang sering disebut sebagai pemimpin/imam.

Ajaran-ajaran tradisional, misalnya di Jawa menggambarkan tugas seorang pemimpin melalui semboyan Ki Hajar Dewantara: “Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa, Tut Wuri handayani” yang artinya, Dimuka memberi teladan, ditengah-tengah membangun semangat, dari belakang memberi dorongan. Atau bunyi pepatah Minangkabau: “kayu gadang ditanah padang, bakeh bataduah ari ujan, bakeh balinduang dari paneh, ureknyo bulieh bakeh basendo (sic), batengnyo buliah bakeh basanda”yang artinya, sebatang kayu yang besar ditengah lapang, tempat berlindng diwaktu hujan, tempat bernaung diwaktu panas, uratnya tempat duduk, batangnya tempat bersandar (Soerjono Soekanto, 1981:154).

Dalam berorganisasi kita memerlukan sosok ideal untuk membimbing kita demi mencapai tujuan bersama yaitu menjadi Insan Ulib Albab. Pencapaian tujuan itu melalui proses perkaderan yang kita maknai sebagai proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kehari.

Seorang pemimpin tidak bisa lepas tanggungjawab terhadap rakyat yang dipimpinnya. Sebaik apapun sistem yang sudah dimiliki, seorang pemimpin harus tetap hadir ditengah masyarakatnya. Apalagi dalam sistem pemerintahan yang masih kacau dan tidak berjalan dengan semestinya. Sosok pemimpin dituntut agar bisa menjalankan apa yang belum berjalan dengan semestinya. Jangan pernah mengatakan bahwa intervensi seorang pemimpin telah melecehkan atau menyimpang dari Independensi seseorang.

Makna Independensi yang kita miliki harus dipikir dan interpretasi ulang. Independensi bukan berarti tidak memihak sama sekali, akan tetapi Independensi yang kita miliki adalah hanya memihak kepada kebenaran (karna kita hanya bersandar kepada Allah SWT).

Menurut saya pribadi, sosok pemimpin yang dibutuhkan saat ini harus memiliki kemampuan Intelekutual, kewibawaan, wawasan yang luas, sedikit nakal, bisa menjadi sosok panutan, dan mempunyai ketegasan dalam mengambil sebuah keputusan.

Tulisan ini saya akhiri dengan kata-kata  kutipan dari Bismar Siregar yang sedikit saya rubah, “kepada kalian disampaikan, apa yang tepat dan baik dilakukan! Kewajiban telah selesai. Sekedar menyampaikan!”.

*Kader Syariah dan Hukum UIN Suanan Kalijaga Yogyakarta

 

 

0 komentar:

Posting Komentar