Oleh:
M. Adil Muktafa*
Dalam kehidupan ini
manusia tidak dapat hidup secara individualis. sehingga dalam bersosialisasi
atau hidup berkelompok manusia memerlukan sosok panutan yang sering disebut
sebagai pemimpin/imam.
Ajaran-ajaran tradisional,
misalnya di Jawa menggambarkan tugas seorang pemimpin melalui semboyan Ki Hajar
Dewantara: “Ing ngarsa sung tulada, Ing
madya mangun karsa, Tut Wuri handayani” yang artinya, Dimuka memberi
teladan, ditengah-tengah membangun semangat, dari belakang memberi dorongan.
Atau bunyi pepatah Minangkabau: “kayu
gadang ditanah padang, bakeh bataduah ari ujan, bakeh balinduang dari paneh,
ureknyo bulieh bakeh basendo (sic), batengnyo buliah bakeh basanda”yang
artinya, sebatang kayu yang besar ditengah lapang, tempat berlindng diwaktu
hujan, tempat bernaung diwaktu panas, uratnya tempat duduk, batangnya tempat
bersandar (Soerjono Soekanto, 1981:154).
Dalam berorganisasi
kita memerlukan sosok ideal untuk membimbing kita demi mencapai tujuan bersama
yaitu menjadi Insan Ulib Albab. Pencapaian tujuan itu melalui proses perkaderan
yang kita maknai sebagai proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari
kehari.
Seorang pemimpin tidak
bisa lepas tanggungjawab terhadap rakyat yang dipimpinnya. Sebaik apapun sistem
yang sudah dimiliki, seorang pemimpin harus tetap hadir ditengah masyarakatnya.
Apalagi dalam sistem pemerintahan yang masih kacau dan tidak berjalan dengan
semestinya. Sosok pemimpin dituntut agar bisa menjalankan apa yang belum
berjalan dengan semestinya. Jangan pernah mengatakan bahwa intervensi seorang
pemimpin telah melecehkan atau menyimpang dari Independensi seseorang.
Makna Independensi yang
kita miliki harus dipikir dan interpretasi ulang. Independensi bukan berarti
tidak memihak sama sekali, akan tetapi Independensi yang kita miliki adalah
hanya memihak kepada kebenaran (karna kita hanya bersandar kepada Allah SWT).
Menurut saya pribadi,
sosok pemimpin yang dibutuhkan saat ini harus memiliki kemampuan Intelekutual, kewibawaan,
wawasan yang luas, sedikit nakal, bisa menjadi sosok panutan, dan mempunyai ketegasan
dalam mengambil sebuah keputusan.
Tulisan
ini saya akhiri dengan kata-kata kutipan
dari Bismar Siregar yang sedikit saya rubah, “kepada kalian disampaikan, apa
yang tepat dan baik dilakukan! Kewajiban telah selesai. Sekedar menyampaikan!”.

0 komentar:
Posting Komentar