Jumat, 14 Februari 2014



                                                                  oleh: raden mas aim
                  Tahun 2014 dipenuhi berbagai macam bencana yang menimpa hampir seluruh wilayah Indonesia. Mulai banjir, gempa, hingga erupsi gunung berapi. Kejadian terakhir terjadi tepat pada tanggal 13 februari di wilayah kediri, tulung agung, trenggalek dan sekitarnya. Bencana erupsi gunung kelud menimbulkan efek yang luar biasa hingga wilayah yang terletak jauh dari lokasi kejadian. Yogyakarta misalnya, mengalami hujan abu hampir setengah hari yang mengakibatkan matahari tidak muncul selama sehari penuh.
            Bencana biasa disebut sebagai musibah. Berbagai macam kejadian yang jelek kemudian di konotasikan sebagai musibah. Namun penempatan kata musibah terhadap berbagai macam kejadian yang buruk telah mengurangi makna musibah itu sendiri. Kata musibah berakar dari kata ashaba yang berarti mengenai. Singkatnya musibah seharusnya digunakan sebagai kata takdir yang tepat sasaran, atau takdir yang mengena. Semua takdir baik maupun jelek sebenarnya merupakan musibah karena takdir tersebut mengena tepat sasarannya.
            Sebenarnya fenomena yang menarik dikaji dari kejadian bencana yang terjadi bukanlah bencana itu sendiri, melainkan respon masyarakat dalam menghadapi bencana tersebut. Pluralitas pemikiran manusia indonesia menyebabkan muncul beerbagai macam opini tentang musibah tersebut. Mulai dari bencana adalah cobaan kepada bangsa Indonesia, adzab Tuhan atas prilaku manusia hingga mengkait kaitkan bencana yang terjadi dengan ayat qur’an. Tentu semua respon tersebut tidak sepenuhnya dapat disalahkan. Karena bencana yang terjadi bisa ditafsirkan sebagai cobaan maupn adzab.
            Negara Indonesia saat ini masih mempunyai predikat sebagai negara dengan muslim terbesar di dunia. Namun yang menjadi pertanyaan mengapa negara dengan penduduk mayoritas muslim justru yang paling sering di timpa bencana. Kemudian muncul opini bahwa turunnya bencana yang bertubi tubi karena Allah ingin menguji seberapa besar iman muslim Indonesia ketika ditimpa bencana. Bila dikaitkan dengan adzab, muncul pula pertanyaan seberapa besarkah dosa manusia indonesia sehingga bencana yang terjadi terus menerus. Banyak opini di media sosial yang menyebutkan bahwa bencana kali ini sebagai teguran atau adzab Allah terhadap muslim yang merayakan valentine day. Bencana banjir di jakarta sebulan lalu dikaitkan dengan pesta pora masyarakat jakarta pada perayaan tahun baru. Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah mengapa hanya Indonesia yang ditimpa bencana. Bukankah di negara lain lebih besar kerusakannya, lebih banyak maksiatnya.
            Tentu saja semua opini itu tidak bisa disalahkan sebagaimana opini itu tidak bisa dibenarkan sepenuhnya. Yang membuat hati penulis resah adalah menyebarnya isu bahwa kejadian tersebut sudah ditakdirkan dalam al-qur’an 1400 tahun lalu. Mengkait kaitkan tanggal kejadian dengan ayat dan surah dalam alquran. Seakan akan memaksa pembaca bahwa bencana itu adalah tafsiran dari ayat dan surat tersebut. Kesalahan terbesar sebagai pembaca pesan tersebut adalah mempercayai bahwa ayat ayat alquran kemudian bisa dijadikan ramalan. Yang akhirnya hanya menjadikan kitab suci sebagai kitab ramalan. Kesalahannya tidak terletak pada penafsiran ayatnya terhadap bencana alam. Namun apakah ayat ayat itu benar benar ditujukan kepada kejadian d gunung kelud?. Al-quran merupakan kitab suci umat islam d seluruh dunia, kitab yang universal. Lantas mengapa ayat yang kejadiannya sama hanya dikaitkan pada satu wilayah saja? Seharusnya ayat tersebut benar benar terjadi di semua wilayah dunia ini karena setiap ayat merupakan ayat yang universal.
            Erupsi gunung kelud yang terjadi pada jam 22:49 dan 22:50 dikaitkan dengan surat 22 ayat 49 dan ayat 50, tahun 2014 kemudian dikaitkan dengan surat 20 ayat 14. Ayat ayat tersebut berisi perintah mengingat shalat dan beramal shaleh, ayat tersbut juga berisi tentang pernyataan bahwa Allah adalah pemberi peringatan yang nyata. Selain itu tanggal kejadian 13 februari dikaitkan dengan surat 13 ayat 2. Kami tidak bisa menyalahkan sepenuhnya penafsiran kejadian alam yang terjadi dengan kaitannya ayat tersebut.
            Sebagai pembaca yang awam kemudian pasti akan mengira bahwa ayat tersebut merupakan ayat ramalan yang sudah diturunkan 1400 tahun lalu. Kemudain pada kejadian alam berikutnya akan mencari ayat yang sama dengan patokan tanggal, hari dan jam. Disitulah letak kesalahannya. Penafsiran ayat alquran semuanya akan terbukti, itu sudah pasti. Seperti ramalan rasul tentang jatuhnya kaum romawi. Namun pembacaannya tidak menggunakan tanggal dan jam. Semua kejadian alam berupa bencan merupakan takdir yang pasti terjadi, namun tidak harus dibaca menggunakan kacamata tanggal, jam kejadian lalu dikaitkan dengan ayat ayat alquran. Karena lebih banyak ayat lain yang tidak sesuai dengan nomor tanggal dan bulan serta tahun yang justru lebih cocok menggambarkan kejadian alam yang terjadi.
            Contoh surat zalzalah, ayat pertama menggambarkan bagaimana ketika bumi di guncang dengan guncanagan (gempa bumi). Ayat kedua menggambarkan bumi yang mengeluarkan isinya (erupsi gunung berapi, lumpur lapindo dll). Penafsiran seperti itu ternyata lebih elegan dan enak di dengar dari pada harus mengkaitkan jam dan tanggal kejadian dengan ayat alquran. Kalaulah demikian, saya tantang para pembaca melanjutkan ayat tersebut karena tanggal berikutnya akan berkesinambungan dengan tanggal kejadian. Apakah ayat selanjutnya akan menggambarkan dunia esok harinya??
            Bencana sebagai cobaan, peringatan dan azab semuanya benar, tidak dapat disalahkan. Penggunaan ayat alquran sebagai dalil yang menopan kejadian tersebut juga benar. Karena banyak ayat alquran yang menggambarkan kejadian bumi pada masa lalu, masa ini dan masa datang. Namun kesalahnnya adalah mencocokkan kejadian dengan ayat tertentu, yang belum tentu ada ayat yang bisa menggambarkannya. Pencocokan itu terlihat semacam dipaksakan. Akan lebih baik mengutip ayat lain yang jauh lebih banyak dan lebih komprehensif mengandung makna daripada harus memaksakan ayat yang sesuai jam dan tanggal.
            Bencana ini ada baiknya kita jadikan sebagai peringatan atas apa yang akan kita lakukan. Dunia ini sudah tua, banyak dosa yang kita lakukan yang menyebabkan kejadian bencana alam. Seperti pemotongan hutan secara ilegal, membuang sampah sembarangan dan lain lain. Mari kita bermuhasabah diri atas apa yang kita lakukan selama ini terhadap bumi ini. Banyak hal yang harus kita perbaiki bersama, banyak hal yang justru wajib namun kita tinggalkan. Mari kita berdoa untuk masa depan kita semua di bumi maupun akhirat.

Wallahu a’lam bi shawab
 

0 komentar:

Posting Komentar