oleh: raden mas aim
Tahun 2014 dipenuhi berbagai macam
bencana yang menimpa hampir seluruh wilayah Indonesia. Mulai banjir, gempa,
hingga erupsi gunung berapi. Kejadian terakhir terjadi tepat pada tanggal 13
februari di wilayah kediri, tulung agung, trenggalek dan sekitarnya. Bencana
erupsi gunung kelud menimbulkan efek yang luar biasa hingga wilayah yang
terletak jauh dari lokasi kejadian. Yogyakarta misalnya, mengalami hujan abu
hampir setengah hari yang mengakibatkan matahari tidak muncul selama sehari
penuh.
Bencana biasa disebut sebagai
musibah. Berbagai macam kejadian yang jelek kemudian di konotasikan sebagai
musibah. Namun penempatan kata musibah terhadap berbagai macam kejadian yang
buruk telah mengurangi makna musibah itu sendiri. Kata musibah berakar dari
kata ashaba yang berarti mengenai.
Singkatnya musibah seharusnya digunakan sebagai kata takdir yang tepat sasaran,
atau takdir yang mengena. Semua takdir baik maupun jelek sebenarnya merupakan
musibah karena takdir tersebut mengena tepat sasarannya.
Sebenarnya fenomena yang menarik
dikaji dari kejadian bencana yang terjadi bukanlah bencana itu sendiri,
melainkan respon masyarakat dalam menghadapi bencana tersebut. Pluralitas
pemikiran manusia indonesia menyebabkan muncul beerbagai macam opini tentang
musibah tersebut. Mulai dari bencana adalah cobaan kepada bangsa Indonesia,
adzab Tuhan atas prilaku manusia hingga mengkait kaitkan bencana yang terjadi
dengan ayat qur’an. Tentu semua respon tersebut tidak sepenuhnya dapat
disalahkan. Karena bencana yang terjadi bisa ditafsirkan sebagai cobaan maupn
adzab.
Negara Indonesia saat ini masih
mempunyai predikat sebagai negara dengan muslim terbesar di dunia. Namun yang
menjadi pertanyaan mengapa negara dengan penduduk mayoritas muslim justru yang
paling sering di timpa bencana. Kemudian muncul opini bahwa turunnya bencana
yang bertubi tubi karena Allah ingin menguji seberapa besar iman muslim
Indonesia ketika ditimpa bencana. Bila dikaitkan dengan adzab, muncul pula
pertanyaan seberapa besarkah dosa manusia indonesia sehingga bencana yang
terjadi terus menerus. Banyak opini di media sosial yang menyebutkan bahwa
bencana kali ini sebagai teguran atau adzab Allah terhadap muslim yang
merayakan valentine day. Bencana banjir di jakarta sebulan lalu dikaitkan
dengan pesta pora masyarakat jakarta pada perayaan tahun baru. Namun yang
menjadi pertanyaan besar adalah mengapa hanya Indonesia yang ditimpa bencana.
Bukankah di negara lain lebih besar kerusakannya, lebih banyak maksiatnya.
Tentu saja semua opini itu tidak
bisa disalahkan sebagaimana opini itu tidak bisa dibenarkan sepenuhnya. Yang
membuat hati penulis resah adalah menyebarnya isu bahwa kejadian tersebut sudah
ditakdirkan dalam al-qur’an 1400 tahun lalu. Mengkait kaitkan tanggal kejadian
dengan ayat dan surah dalam alquran. Seakan akan memaksa pembaca bahwa bencana
itu adalah tafsiran dari ayat dan surat tersebut. Kesalahan terbesar sebagai
pembaca pesan tersebut adalah mempercayai bahwa ayat ayat alquran kemudian bisa
dijadikan ramalan. Yang akhirnya hanya menjadikan kitab suci sebagai kitab
ramalan. Kesalahannya tidak terletak pada penafsiran ayatnya terhadap bencana
alam. Namun apakah ayat ayat itu benar benar ditujukan kepada kejadian d gunung
kelud?. Al-quran merupakan kitab suci umat islam d seluruh dunia, kitab yang
universal. Lantas mengapa ayat yang kejadiannya sama hanya dikaitkan pada satu
wilayah saja? Seharusnya ayat tersebut benar benar terjadi di semua wilayah
dunia ini karena setiap ayat merupakan ayat yang universal.
Erupsi gunung kelud yang terjadi
pada jam 22:49 dan 22:50 dikaitkan dengan surat 22 ayat 49 dan ayat 50, tahun
2014 kemudian dikaitkan dengan surat 20 ayat 14. Ayat ayat tersebut berisi
perintah mengingat shalat dan beramal shaleh, ayat tersbut juga berisi tentang
pernyataan bahwa Allah adalah pemberi peringatan yang nyata. Selain itu tanggal
kejadian 13 februari dikaitkan dengan surat 13 ayat 2. Kami tidak bisa
menyalahkan sepenuhnya penafsiran kejadian alam yang terjadi dengan kaitannya
ayat tersebut.
Sebagai pembaca yang awam kemudian
pasti akan mengira bahwa ayat tersebut merupakan ayat ramalan yang sudah
diturunkan 1400 tahun lalu. Kemudain pada kejadian alam berikutnya akan mencari
ayat yang sama dengan patokan tanggal, hari dan jam. Disitulah letak
kesalahannya. Penafsiran ayat alquran semuanya akan terbukti, itu sudah pasti.
Seperti ramalan rasul tentang jatuhnya kaum romawi. Namun pembacaannya tidak
menggunakan tanggal dan jam. Semua kejadian alam berupa bencan merupakan takdir
yang pasti terjadi, namun tidak harus dibaca menggunakan kacamata tanggal, jam
kejadian lalu dikaitkan dengan ayat ayat alquran. Karena lebih banyak ayat lain
yang tidak sesuai dengan nomor tanggal dan bulan serta tahun yang justru lebih
cocok menggambarkan kejadian alam yang terjadi.
Contoh surat zalzalah, ayat pertama
menggambarkan bagaimana ketika bumi di guncang dengan guncanagan (gempa bumi).
Ayat kedua menggambarkan bumi yang mengeluarkan isinya (erupsi gunung berapi,
lumpur lapindo dll). Penafsiran seperti itu ternyata lebih elegan dan enak di
dengar dari pada harus mengkaitkan jam dan tanggal kejadian dengan ayat
alquran. Kalaulah demikian, saya tantang para pembaca melanjutkan ayat tersebut
karena tanggal berikutnya akan berkesinambungan dengan tanggal kejadian. Apakah
ayat selanjutnya akan menggambarkan dunia esok harinya??
Bencana sebagai cobaan, peringatan
dan azab semuanya benar, tidak dapat disalahkan. Penggunaan ayat alquran
sebagai dalil yang menopan kejadian tersebut juga benar. Karena banyak ayat
alquran yang menggambarkan kejadian bumi pada masa lalu, masa ini dan masa
datang. Namun kesalahnnya adalah mencocokkan kejadian dengan ayat tertentu,
yang belum tentu ada ayat yang bisa menggambarkannya. Pencocokan itu terlihat
semacam dipaksakan. Akan lebih baik mengutip ayat lain yang jauh lebih banyak
dan lebih komprehensif mengandung makna daripada harus memaksakan ayat yang
sesuai jam dan tanggal.
Bencana ini ada baiknya kita jadikan
sebagai peringatan atas apa yang akan kita lakukan. Dunia ini sudah tua, banyak
dosa yang kita lakukan yang menyebabkan kejadian bencana alam. Seperti
pemotongan hutan secara ilegal, membuang sampah sembarangan dan lain lain. Mari
kita bermuhasabah diri atas apa yang kita lakukan selama ini terhadap bumi ini.
Banyak hal yang harus kita perbaiki bersama, banyak hal yang justru wajib namun kita
tinggalkan. Mari kita berdoa untuk masa depan kita semua di bumi maupun
akhirat.
Wallahu
a’lam bi shawab

0 komentar:
Posting Komentar